
Suku bangsa Banjar diduga berintikan
penduduk asal Sumatera atau daerah sekitarnya, yang membangun tanah air baru di
kawasan ini sekitar lebih dari seribu tahun yang lalu. Setelah berlalu masa
yang lama sekali akhirnya,-setelah bercampur dengan penduduk yang lebih asli,
yang biasa dinamakan sebagai suku Dayak, dan dengan imigran-imigran yang
berdatangan belakangan-terbentuklah setidak-tidaknya tiga subsuku, yaitu
(Banjar) Pahuluan, (Banjar) Batang Banyu, dan Banjar (Kuala).
Orang Pahuluan pada asasnya ialah penduduk daerah lembah-lembah sungai (cabang
sungai Negara) yang berhulu ke pegunungan Meratus, orang Batang Banyu mendiami
lembah sungai Negara, sedangkan orang Banjar (Kuala) mendiami sekitar
Banjarmasin (dan Martapura).
Bahasa yang mereka kembangkan dinamakan bahasa Banjar, yang pada asasnya adalah
bahasa Melayu-sama halnya ketika berada di daerah asalnya di Sumatera atau
sekitarnya-, yang di dalamnya terdapat banyak kosa kata asal Dayak dan asal
Jawa.
Nama Banjar diperoleh karena mereka dahulu-sebelum dihapuskan pada tahun 1860-,
adalah warga Kesultanan Banjarmasin atau disingkat Banjar, sesuai dengan nama
ibukotanya pada mula berdirinya. Ketika ibukota dipindahkan ke arah pedalaman,
terakhir di Martapura, nama tersebut nampaknya sudah baku atau tidak berubah
lagi.
Banjar Pahuluan
Sangat mungkin sekali pemeluk Islam sudah ada sebelumnya di sekitar keraton
yang dibangun di Banjarmasin, tetapi pengislaman secara massal diduga terjadi
setelah raja, Pangeran Samudera yang kemudian dilantik menjadi Sultan
Suriansyah, memeluk Islam diikuti warga kerabatnya, yaitu bubuhan raja-raja.
Perilaku raja ini diikuti elit ibukota, masing-masing tentu menjumpai penduduk
yang lebih asli, yaitu suku Dayak Bukit, yang dahulu diperkirakan mendiami
lembah-lembah sungai yang sama. Dengan memperhatikan bahasa yang
dikembangkannya, suku Dayak Bukit adalah satu asal usul dengan cikal bakal suku
Banjar, yaitu sama-sama berasal dari Sumatera atau sekitarnya, tetapi mereka
lebih dahulu menetap. Kedua kelompok masyarakat Melayu ini memang hidup
bertetangga tetapi, setidak-tidaknya pada masa permulaan, pada asasnya tidak
berbaur.
Jadi meskipun kelompok suku Banjar (Pahuluan) membangun pemukiman di suatu tempat,
yang mungkin tidak terlalu jauh letaknya dari balai suku Dayak Bukit, namun
masing-masing merupakan kelompok yang berdiri sendiri. Untuk kepentingan
keamanan, dan atau karena memang ada ikatan kekerabatan, cikal bakal suku
Banjar membentuk komplek pemukiman tersendiri.
Komplek pemukiman cikal bakal suku Banjar (Pahuluan) yang pertama ini merupakan
komplek pemukiman bubuhan, yang pada mulanya terdiri dari seorang tokoh yang
berwibawa sebagai kepalanya, dan warga kerabatnya, dan mungkin ditambah dengan keluarga-keluarga
lain yang bergabung dengannya.
Model yang sama atau hampir sama juga terdapat pada masyarakat balai di
kalangan masyarakat Dayak Bukit, yang pada asasnya masih berlaku sampai
sekarang. Daerah lembah sungai-sungai yang berhulu di Pegunungan Meratus ini
nampaknya wilayah pemukiman pertama masyarakat Banjar, dan di daerah inilah
konsentrasi penduduk yang banyak sejak jaman kuno, dan daerah inilah yang
dinamakan Pahuluan. Apa yang dikemukakan di atas menggambarkan terbentuknya
masyarakat (Banjar) Pahuluan, yang tentu saja dengan kemungkinan adanya unsur
Dayak Bukit ikut membentuknya
Banjar Batang Banyu
Masyarakat (Banjar) Batang Banyu terbetuk diduga erat sekali berkaitan dengan
terbentuknya pusat kekuasaan yang meliputi seluruh wilayah Banjar, yang
barangkali terbentuk mula pertama di hulu sungai Negara atau cabangnya yaitu
sungai Tabalong. Selaku warga yang berdiam di ibukota tentu merupakan
kebanggaan tersendiri, sehingga menjadi kelompok penduduk yang terpisah.
Daerah tepi sungai Tabalong adalah merupakan tempat tinggal tradisional dari
suku Dayak Maanyan (dan Lawangan), sehingga diduga banyak yang ikut serta
membentuk subsuku Batang Banyu, di samping tentu saja orang-orang asal Pahuluan
yang pindah ke sana dan para pendatang yang datang dari luar.
Bila di Pahuluan umumnya orang hidup dari bertani (subsistens), maka banyak di
antara penduduk Batang Banyu yang bermata pencarian sebagai pedagang dan
pengrajin.
Banjar Kuala
Ketika pusat kerajaan dipindahkan ke Banjarmasin (terbentuknya Kesultanan
Banjarmasin), sebagian warga Batang Banyu (dibawa) pindah ke pusat kekuasaan
yang baru ini dan, bersama-sama dengan penduduk sekitar keraton yang sudah ada
sebelumnya, membentuk subsuku Banjar.
Di kawasan ini mereka berjumpa dengan suku Dayak Ngaju , yang seperti halnya
dengan dengan masyarakat Dayak Bukit dan masyarakat Dayak Maanyan atau Lawangan
, banyak di antara mereka yang akhirnya melebur ke dalam masyarakat Banjar,
setelah mereka memeluk agama Islam.
Mereka yang bertempat tinggal di sekitar ibukota kesultanan inilah sebenarnya
yang dinamakan atau menamakan dirinya orang Banjar, sedangkan masyarakat
Pahuluan dan masyarakat Batang Banyu biasa menyebut dirinya sebagai orang (asal
dari) kota-kota kuno yang terkemuka dahulu. Tetapi bila berada di luar Tanah
Banjar, mereka itu tanpa kecuali mengaku sebagai orang Banjar.
(Alfani Daud, Islam dan Asal Usul
Masyarakat Banjar)
Inti Suku Banjar
Menurut Alfani Daud (Islam dan Masyarakat Banjar, 1997), inti suku Banjar
adalah para pendatang Melayu dari Sumatera dan sekitarnya, sedangkan menurut
Idwar Saleh justru penduduk asli suku Dayak (yang kemudian bercampur membentuk
kesatuan politik sebagaimana Bangsa Indonesia dilengkapi dengan bahasa
Indonesia-nya).
Menurut Idwar Saleh (Sekilas Mengenai Daerah Banjar dan Kebudayaan Sungainya
Sampai Akhir Abad ke-19, 1986): " Demikian kita dapatkan keraton keempat
adalah lanjutan dari kerajaan Daha dalam bentuk kerajaan Banjar Islam dan
berpadunya suku Ngaju, Maanyan dan Bukit sebagai inti. Inilah penduduk Banjarmasih
ketika tahun 1526 didirikan. Dalam amalgamasi (campuran) baru ini telah
bercampur unsur Melayu, Jawa, Ngaju, Maanyan, Bukit dan suku kecil lainnya
diikat oleh agama Islam, berbahasa Banjar dan adat istiadat Banjar oleh difusi
kebudayaan yang ada dalam keraton....Di sini kita dapatkan bukan suku Banjar,
karena kesatuan etnik itu tidak ada, yang ada adalah group atau kelompok besar
yaitu kelompok Banjar Kuala, kelompok Banjar Batang Banyu dan Banjar Pahuluan.
Yang pertama tinggal di daerah Banjar Kuala sampai dengan daerah Martapura.
Yang kedua tinggal di sepanjang sungai Tabalong dari muaranya di sungai Barito
sampai dengan Kelua. Yang ketiga tinggal di kaki pegunungan Meratus dari
Tanjung sampai Pelaihari. Kelompok Banjar Kuala berasal dari kesatuan-etnik
Ngaju, kelompok Banjar Batang Banyu berasal dari kesatuan-etnik Maanyan,
kelompok Banjar Pahuluan berasal dari kesatuan-etnik Bukit. Ketiga ini adalah
intinya. Mereka menganggap lebih beradab dan menjadi kriteria dengan yang bukan
Banjar, yaitu golongan Kaharingan, dengan ejekan orang Dusun, orang Biaju,
Bukit dan sebagainya".
Selanjutnya menurut Idwar Saleh (makalah Perang Banjar 1859-1865, 1991):
"Ketika Pangeran Samudera mendirikan kerajaan Banjar ia dibantu oleh orang
Ngaju, dibantu patih-patihnya seperti patih Balandean, Patih Belitung, Patih
Kuwin dan sebagainya serta orang Bakumpai yang dikalahkan. Demikian pula
penduduk Daha yang dikalahkan sebagian besar orang Bukit dan Manyan. Kelompok
ini diberi agama baru yaitu agama Islam, kemudian mengangkat sumpah setia
kepada raja, dan sebagai tanda setia memakai bahasa ibu baru dan meninggalkan
bahasa ibu lama. Jadi orang Banjar itu bukan kesatuan etnis tetapi kesatuan
politik, seperti bangsa Indonesia.
·
Penyebaran Suku Bangsa Banjar
·
Ulama Banjar
·
Populasi Suku Bangsa Banjar
·
Bubuhan
·
Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku
Dayak
·
Seni Tradisional Banjar
·
Kerajaan Banjar
·
Organisasi suku Banjar
Penyebaran Suku Bangsa Banjar
Keadaan geomorfologis Nusantara tempo dulu sangat berbeda, dimana telah terjadi
pendangkalan lautan menjadi daratan. Hal tersebut mempengaruhi penyebaran
suku-suku bangsa di Kalimantan. Pada jaman purba pulau Kalimantan bagian
selatan dan tengah merupakan sebuah teluk raksasa. Kalimantan Selatan merupakan
sebuah tanjung, sehingga disebut pulau Hujung Tanah dalam Hikayat Banjar dan
disebut Tanjung Negara dalam kitab Negarakertagama. Seperti dalam gambaran
Kitab Negarakertagama, sungai Barito dan sungai Tabalong pada jaman itu masih
merupakan dua sungai yang terpisah yang bermuara ke teluk tersebut. Ketika
orang Melayu generasi pertama yang menjadi nenek moyang suku bangsa Banjar
bermigrasi ke daerah ini mereka mendarat di sebelah timur teluk tersebut,
diduga di sekitar kota Tanjung, di Tabalong yang di masa tersebut terletak di
tepi pantai, mereka bertetangga dengan suku Dayak Maanyan.
Suku Dayak Maanyan bermigrasi datang dari arah timur Kalimantan Tengah dekat
pegunungan Meratus dan karena tempat tinggalnya dekat laut, suku Maanyan telah
melakukan pelayaran hingga ke Madagaskar. Setelah berabad-abad sekarang wilayah
suku Maanyan di Barito Timur sangat jauh dari laut karena adanya pendangkalan.
Sementara suku Dayak Ngaju yang bermigrasi dari datang arah barat Kalimantan
Tengah, merupakan keturunan dari suku Dayak Ot Danum yang tinggal dari sebelah
hulu sungai-sungai besar di wilayah tersebut. Sedangkan suku Dayak Bakumpai di
wilayah Barito merupakan keturunan cabang dari suku Dayak Ngaju yang akhirnya
memeluk agama Islam dan merupakan komunitas suku bangsa tersendiri.
Suku Banjar yang bertempat tinggal di daerah atas di kaki pegunungan Meratus
dari kota Tanjung sampai Pelaihari merupakan kelompok Pahuluan. Kelompok
Pahuluan bermigrasi ke arah hilir menuju dataran rendah berawa-rawa di tepi
sungai Negara (Batang Banyu) yang telah mengalami pendangkalan. Di wilayah
tersebut terbentuk kerajaan-kerajaan yang dipengaruhi agama Hindu dan Majapahit
dibuktikan dengan adanya peninggalan bekas-bekas candi di Amuntai dan
Margasari.
Dari wilayah Batang Banyu yaitu daerah tepian sungai Negara dari Kelua hingga
muaranya di sungai Barito, suku Banjar bergerak ke hilir membentuk pusat
kerajaan baru dekat muara sungai Barito yaitu kesultanan Banjarmasin, sehingga
terbentuklah kelompok Banjar Kuala yang merupakan amalgamasi dari unsur-unsur
Melayu, Jawa, Bukit, Maanyan, Ngaju dan suku-suku kecil lainnya. Dari wilayah
Kalimantan Selatan, suku Banjar bermigrasi ke wilayah lainnya di Kalimantan.
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu
orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang
merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di
daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di
Kalimantan Timur.
Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama
terjadi pada masa pemerintahan Sultan Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan
Mustainbillah (1650-1672), yang telah mengijinkan berdirinya Kerajaan
Kotawaringin dengan rajanya yang pertama Pangeran Adipati Antakusuma.
Sedangkan migrasi suku Banjar ke wilayah Barito, Kalimantan Tengah terutama
pada masa perjuangan Pangeran Antasari melawan Belanda sekitar tahun 1860-an.
Suku-suku Dayak di wilayah Barito mengangkat Pangeran Antasari (Gusti Inu
Kartapati) sebagai raja dengan gelar Panembahan Amiruddin berkedudukan di Puruk
Cahu (Murung Raya), setelah mangkat beliau dilanjutkan oleh putranya yang
bergelar Sultan Muhammad Seman.
Suku Banjar terbagi 3 kelompok berdasarkan teritorialnya dan unsur pembentuk
suku :
·
Banjar Pahuluan adalah campuran
Melayu dan Bukit (Bukit sebagai ciri kelompok)
·
Banjar Batangbanyu adalah campuran
Melayu, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Maanyan sebagai ciri kelompok)
·
Banjar Kuala adalah campuran Melayu,
Ngaju, Barangas, Bakumpai, Maanyan, Lawangan, Bukit dan Jawa (Ngaju sebagai
ciri kelompok)
Dengan mengambil pendapat Idwar
Saleh tentang inti suku Banjar, maka percampuran suku Banjar dengan suku Dayak
Ngaju/suku serumpunnya yang berada di sebelah barat Banjarmasin (Kalimantan
Tengah) dapat kita asumsikan sebagai kelompok Banjar Kuala juga. Di sebelah
utara Kalimantan Selatan terjadi percampuran suku Banjar dengan suku
Maanyan/suku serumpunnya seperti Dusun, Lawangan dan suku Pasir di Kalimantan
Timur yang juga berbahasa Lawangan, dapat kita asumsikan sebagai kelompok
Banjar Batang Banyu. Percampuran suku Banjar di tenggara Kalimantan yang banyak
terdapat suku Bukit kita asumsikan sebagai Banjar Pahuluan.
Migrasi suku Banjar ke Sumatera khususnya ke Tembilahan, Indragiri Hilir
sekitar tahun 1885 di masa pemerintahan Sultan Isa, raja Indragiri sebelum raja
yang terakhir. Tokoh etnis Banjar yang terkenal dari daerah ini adalah Syekh
Abdurrahman Siddiq Al Banjari (Tuan Guru Sapat) yang berasal dari Martapura
yang menjabat sebagai Mufti Kerajaan Indragiri.
Dalam masa-masa tersebut, suku Banjar juga bermigrasi ke Malaysia antara lain
ke negeri Kedah, Perak( Kerian, Sungai Manik, Bagan Datoh), Selangor(Sabak
Bernam, Tanjung Karang), Johor(Batu Pahat) dan juga negeri Sabah(Sandakan,
Tenom, Keningau, Tawau) yang disebut Banjar Melau. Tokoh etnis Banjar yang
terkenal dari Malaysia adalah Syekh Husein Kedah Al Banjari, mufti Kerajaan
Kedah. Salah satu etnis tokoh Banjar dari Malaysia yang terkenal saat ini
adalah Dato Seri (DR) Harussani bin Haji Zakaria yang menjadi Mufti Kerajaan
Negeri Perak. Daerah (setingkat kabupaten) yang paling banyak terdapat etnis
Banjar di Malaysia adalah Daerah Kerian di Negeri Perak Darul Ridzuan
Populasi Suku Bangsa Banjar
Populasi suku Banjar diperkirakan sebagai berikut :
·
2.271.586 di Propinsi Kalimantan
Selatan (BPS - sensus th. 2000)
·
500.000 di Propinsi Kalimantan Timur
·
500.000 di Propinsi Kalimantan
Tengah
·
50.000 di Propinsi Kalimantan Barat
·
300.000 di pulau Sumatera
·
519.000 di negara Malaysia (situs
Joshua Project)
Menurut situs "Joshua
Project" jumlah suku Banjar adalah
·
3.040.000 di Indonesia
·
519.000 di Malaysia
Berdasarkan sensus penduduk tahun
2000 oleh Badan Pusat Statistik (BPS), populasi suku Banjar di Kalimantan
Selatan berjumlah 2.271.586 jiwa, yang terdistribusi pada beberapa kabupaten
dan kota, yaitu :
·
142.731 jiwa di kabupaten Tanah Laut
·
154.399 jiwa di kabupaten Kota Baru
(termasuk kab. Tanah Bumbu)
·
361.692 jiwa di kabupaten Banjar
·
184.180 jiwa di kabupaten Barito
Kuala
·
417.309 jiwa di kota Banjarmasin
·
75.537 jiwa di kota Banjarbaru
Orang Banjar Hulu Sungai yang
bertutur Bahasa Banjar Hulu terdapat pada 6 kabupaten (Banua Enam) yaitu :
·
114.265 jiwa di kabupaten Tapin
·
188.672 jiwa di kabupaten Hulu
Sungai Selatan
·
213.725 jiwa di kabupaten Hulu
Sungai Tengah
·
277.729 jiwa di kabupaten Hulu
Sungai Utara (termasuk kab. Balangan)
·
141.347 jiwa di kabupaten Tabalong
Suku Banjar di Kalimantan Timur
Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku
Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh
kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku
Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan dan Jempang di Kutai Kartanegara;
Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Ilir di kota Samarinda.
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu
orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang
merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di
daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di
Kalimantan Timur.
Suku Banjar di Kalimantan Tengah
Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau
Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu
nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk
dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak
Bakumpai, Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar
Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan
Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah
mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama
Pangeran Adipati Antakusuma.
Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia
Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah,
piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi
besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau
Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung
Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama
bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan
diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah
dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi
besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali
adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka
harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura
karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang
menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar
di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali
melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa
melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar
ketika itu mati syahid di tangan Belanda.
Bubuhan
Bubuhan adalah unit kesatuan famili atau kekerabatan biasanya sampai derajat
sepupu dua atau tiga kali, bersama-sama para suami atau kadang-kadang dengan
para isteri mereka. Anggota bubuhan tinggal di rumah masing-masing, (dahulu)
dalam suatu lingkungan yang nyata batas-batasnya. Diantara anggota bubuhan ini
terdapat seseorang yang menonjol sehingga dianggap sebagai pemimpin bubuhan
yang disebut tatuha bubuhan. Pemukiman terbentuk dari satu atau beberapa
bubuhan.
Pengislaman bubuhan
Suku bangsa Melayu yang menjadi inti masyarakat Banjar memasuki daerah ini
ketika dataran dan rawa-rawa yang luas yang kini membentuk bagian besar
Provinsi Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah masih merupakan teluk raksasa
yang jauh menjorok ke pedalaman.
Suku bangsa Melayu ini, dengan melalui laut Jawa-memasuki teluk raksasa
tersebut, lalu memudiki sungai-sungai yang bermuara ke sana, belakangan menjadi
cabang-cabang sungai Negara, yang semuanya berhulu di kaki Pegunungan Meratus.
Mereka disertai kelompok bubuhan-nya, dan oleh elit daerah, juga diikuti warga
bubuhannya, dan demikianlah seterusnya sampai bubuhan rakyat jelata di tingkat
bawah.
Dengan masuk Islam-nya para bubuhan, kelompok demi kelompok, maka dalam waktu
relatif singkat Islam akhirnya telah menjadi identitas orang Banjar dan
merupakan cirinya yang pokok, meskipun pada mulanya ketaatan menjalankan ajaran
Islam tidak merata.
Dapat dikatakan bahwa pada tahapan permulaan berkembangnya Islam tersebut,
kebudayaan Banjar telah memberi bingkai dan Islam telah terintegrasikan ke
dalamnya; dengan masuk Islamnya bubuhan secara berkelompok, kepercayaan Islam
diterima sebagai bagian dari kepercayaan bubuhan.
Menurut Alfani Daud (1997 : 50),pada dasarnya masyarakat Banjar merupakan
penganut Islam yang taat, walaupun terdapat pengaruh kepercayaan lama. Corak
keislaman orang Banjar mencakup konsepsi-konsepsi dari imigran-imigran Melayu
yang menjadi nenek moyang orang Banjar, dari sisa-sisa kepercayaan Hindu, dan
sisa-sisa kepercayaan Dayak yang ikut membentuk suku bangsa Banjar.
Pemerintahan bubuhan tempo dulu
Kenyataan bahwa bubuhan memeluk Islam secara berkelompok telah memberikan warna
pada keislaman masyarakat kawasan ini, yaitu pada asasnya diintegrasikannya
kepercayaan Islam ke dalam kepercayaan bubuhan, yaitu kepercayaan yang dianut
oleh warga bubuhan yang sama terjadi pada masyarakat Dayak Bukit sampai
setidak-tidaknya belum lama berselang.
Kelompok bubuhan dipimpin oleh warganya yang berwibawa. Sama halnya dengan
masyarakat balai saat ini, kepala bubuhan yang pada masa kesultanan sering
disebut sebagai asli, berfungsi sebagai tokoh yang berwibawa, sebagai tabib,
sebagai kepala pemerintahan dan mewakili bubuhan bila berhubungan dengan pihak
luar, sama halnya seperti kepala balai yang biasanya seorang balian, bagi
masyarakat Dayak Bukit sampai belum lama ini.
Ketika terbentuk pusat kekuasaan, kelompok masyarakat bubuhan diintegrasikan ke
dalam ke dalamnya; kewibawaan kepala bubuhan terhadap warganya diakui. Biasanya
sebuah kelompok bubuhan membentuk sebuah anak kampung, gabungan beberapa
masyarakat bubuhan membentuk sebuah kampung, dan salah satu kepala bubuhan yang
paling berwibawa diakui sebagai kepala kampung itu.
Untuk mengkoordinasikan beberapa buah kampung ditetapkan seorang lurah, suatu
jabatan Kesultanan di daerah yang dahulu disebut banua, yaitu biasanya seorang
kepala bubuhan yang berwibawa pula.
Beberapa lurah dikoordinasikan oleh seorang lalawangan, suatu jabatan yang
mungkin dapat disamakan dengan jabatan bupati di Jawa pada kurun yang sama.
Dengan sendirinya seorang yang menduduki jabatan yang formal sebagai mantri
atau penghulu merupakan tokoh pula dalam lingkungan bubuhannya.
Dengan demikian dapat dinyatakan bahwa sistem pemerintahan pada masa
kesultanan, dan mungkin regim-regim sebelumnya, diatur secara hirarkis sebagai
pemerintahan bubuhan. Di tingkat pusat yang berkuasa ialah bubuhan raja-raja,
yang terdiri dari sultan dan kerabatnya ditambah pembesar-pembesarkerajaan
(baca:mantri-mantri).
Pada tingkat daerah memerintah tokoh-tokoh bubuhan, mulai dari lurah-lurah,
yang dikoordinasikan oleh seorang lalawangan; berikutnya ialah kepala-kepala
kampung, yang adalah seorang tokoh bubuhan, semuanya yang paling berwibawa di
dalam lingkungannya, dan membawahi beberapa kelompok rakyat jelata pada tingkat
paling bawah. Peranan bubuhan ini sangat dominan pada zaman sultan-sultan. dan
masih sangat kuat pada permulaan pemerintahan Hindia Belanda. Belakangan memang
dilakukan perombakan-perombakan; jabatan kepala pemerintahan di desa (kampung)
tidak lagi melalui keturunan, melainkan melalui pendidikan.
Persaudaraan Suku Banjar dengan Suku
Dayak
Hubungan Persaudaraan Suku Banjar dan Suku-suku DayakSejak jaman dahulu telah terjadi
hubungan persaudaraan dan ikatan kekeluargaan serta toleransi yang tinggi
antara suku Banjar dan suku-suku Dayak.
Perkawinan Sultan Banjar dengan Puteri-puteri Dayak
Dari tradisi lisan suku Dayak Ngaju dapat diketahui, isteri Raja Banjar pertama
yang bernama Biang Lawai beretnis Dayak Ngaju. Sedangkan isteri kedua Raja
Banjar pertama yang bernama Noorhayati, menurut tradisi lisan Suku Dayak
Maanyan, berasal dari etnis mereka. Jadi perempuan Dayaklah yang menurunkan
raja-raja Banjar yang pernah ada. Dalam Hikayat Banjar menyebutkan salah satu
isteri Raja Banjar ketiga Sultan Hidayatullah juga puteri Dayak, yaitu puteri
Khatib Banun, seorang tokoh Dayak Ngaju. Dari rahim putri ini lahir Marhum
Panembahan yang kemudian naik tahta dengan gelar Sultan Mustainbillah. Putri
Dayak berikutnya adalah isteri Raja Banjar kelima Sultan Inayatullah, yang
melahirkan Raja Banjar ketujuh Sultan Agung. Dan Sultan Tamjidillah (putera
Sultan Muda Abdurrahman bin Sultan Adam) juga lahir dari seorang putri Dayak
berdarah campuran Cina yaitu Nyai Dawang.
Sultan Muhammad Seman
Salah satu sayap militer Pangeran Antasari yang terkenal tangguh dan setia,
adalah kelompok Suku Dayak Siang Murung dengan kepala sukunya Tumenggung
Surapati. Hubungan kekerabatan sang pangeran melalui perkawinannya dengan Nyai
Fatimah yang tak lain adalah saudara perempuan kepala suku mereka, Surapati.
Dari puteri Dayak ini lahir Sultan Muhammad Seman yang kelak meneruskan
perjuangan ayahnya sampai gugur oleh peluru Belanda tahun 1905. Dalam masa perjuangan
tersebut, Muhammad Seman juga mengawini dua puteri Dayak dari Suku Dayak Ot
Danum. Puteranya, Gusti Berakit, ketika tahun 1906 juga mengawini putri kepala
suku Dayak yang tinggal di tepi sungai Tabalong. Sebagai wujud toleransi yang
tinggi, ketika mertuanya meninggal, Sultan Muhammad Seman memprakarsai
diselenggarakannya tiwah, yaitu upacara pemakaman secara adat Dayak
(Kaharingan).
Puteri Mayang Sari
Putri Mayang Sari yang berkuasa di Jaar-Singarasi, kabupaten Barito Timur
adalah puteri dari Raja Banjar Islam yang pertama (Sultan Suriansyah) dari
isteri keduanya Norhayati yang berdarah Dayak, cucu Labai Lamiah tokoh Islam
Dayak Maanyan. Walau Mayang Sari beragama Islam, dalam memimpin sangat kental
dengan adat Dayak, senang turun lapangan mengunjungi perkampungan Dayak dan
sangat memperhatikan keadilmakmuran masyarakat Dayak di masanya. Itu sebabnya
ia sangat dihormati dan makamnya diabadikan dalam Rumah Adat Banjar di Jaar,
kabupaten Barito Timur.(Marko Mahin, 2005)
Perang Banjar
Eratnya persahabatan Banjar-Dayak, juga karena kedua suku ini terlibat
persekutuan erat melawan Belanda dalam Perang Banjar. Setelah terdesak di
Banjarmasin dan Martapura, Pangeran Antasari beserta pengikut dan keturunannya
mengalihkan perlawanan ke daerah Hulu Sungai dan sepanjang sungai Barito sampai
ke hulu Barito, dimana terdapat beragam etnis Dayak terlibat di dalamnya.
Perang antara koalisi etnis Banjar bersama etnis Dayak di satu pihak versus
Belanda dan antek-anteknya di pihak lain, sebagaimana watak peperangan pada
umumnya, jauh lebih banyak duka daripada sukanya. Kedua suku serumpun ini sudah
merasa bersaudara senasib sepenanggungan, dimana harta benda, jiwa raga, darah
dan airmata sama-sama tumpah di tengah api perjuangan mengusir penjajah.
Beberapa pahlawan perang Banjar dan perang Barito dari etnis Dayak :
·
Tumenggung Surapati, meninggal 1904
dimakamkan di Puruk Cahu, Murung Raya
·
Panglima Batur, dari suku Dayak
Siang Murung dimakamkan di Komplek Makam Pangeran Antasari, Banjarmasin
·
Panglima Unggis, dimakamkan di desa
Ketapang, Kecamatan Gunung Timang, Barito Utara
·
Panglima Sogo, yang turut
menenggelamkan kapal Onrust milik Belanda 26 Desember 1859 di Lewu Lutung
Tuwur, makamnya di desa Malawaken, Kecamatan Teweh Tengah, Barito Utara.
·
Panglima Batu Balot (Tumenggung
Marha Lahew), panglima wanita yang pernah menyerang Fort Muara Teweh tahun
1864-1865, makamnya di desa Malawaken (Teluk Mayang), Kecamatan Teweh Tengah,
Barito Utara.
·
Panglima Wangkang, dari suku Dayak
Bakumpai di Marabahan, putera dari Damang Kendet dan ibunya wanita Banjar dari
Amuntai
·
Perang Montallat tahun 1861 juga
menyebabkan gugurnya dua putera Ratu Zaleha yang dimakamkan di desa Majangkan,
kec. Gunung Timang.
Dammung Sayu
Dammung Sayu merupakan seorang pemimpin masyarakat suku Dayak Maanyan Paju
Sapuluh yang telah berjasa dalam membantu salah seorang kerabat raja Banjar
yang bersembunyi di wilayahnya dari pengejaran pihak Belanda. Karena itu
akhirnya Belanda membumihanguskan perkampungan suku ini yang terletak di Desa
Magantis, Tamiang Layang, Kabupaten Barito Timur. Pihak kerajaan Banjar yang
berjuang melawan penjajah Belanda mengangkat Dammung Sayu sebagai panglima
dengan gelar Tumenggung dan memberikan seperangkat payung kuning dan
perlengkapan kerajaan.
Sangiang
Toleransi antara suku Banjar dan Dayak, juga dapat dilihat dari sastera suci
suku Dayak Ngaju, Panaturan. Digambarkan disana, Raja Banjar (Raja Maruhum)
beserta Putri Dayak yang menjadi isterinya Nyai Siti Diang Lawai adalah bagian
leluhur orang Dayak Ngaju. Bahkan mereka juga diproyeksikan sebagai sangiang
(manusia illahi) yang tinggal di Lewu Tambak Raja, salah satu tempat di Lewu
Sangiang (Perkampungan para Dewa). Karena Sang Raja beragama Islam maka disana disebutkan
juga ada masjid.(Marko Mahin, Urang Banjar, 2005)
Balai Hakey
Secara sosiologis-antropologis antara etnis Banjar dan Dayak diibaratkan
sebagai dangsanak tuha dan dangsanak anum (saudara tua dan muda). Urang Banjar
yang lebih dahulu menjadi muslim disusul sebagian etnis Dayak yang bahakey
(berislam), saling merasa dan menyebut yang lain sebagai saudara. Mereka tetap
memelihara toleransi hingga kini. Tiap ada upacara ijambe, tewah dan
sejenisnya, komunitas Dayak selalu menyediakan Balai Hakey, tempat orang muslim
dipersilakan menyembelih dan memasak makanannya sendiri yang dihalalkan menurut
keyakinan Islam.
Intingan dan Dayuhan
Toleransi antara suku Banjar dengan suku Dayak Bukit di pegunungan Meratus di
daerah Tapin di Kalimantan Selatan, juga dapat dilihat pada mitologi suku
bangsa tersebut. Dalam pandangan mereka, Urang Banjar adalah keturunan dari
Intingan, yaitu dangsanak anum (adik) dari leluhur mereka yang bernama Dayuhan.
Meskipun kokoh dengan kepercayaan leluhur, suku Dayak Bukit selalu menziarahi
Masjid Banua Halat yang menurut mitologi mereka dibangun oleh Intingan, ketika
saudara leluhur mereka tersebut memeluk agama Islam.
Kerajaan Banjar
Kerajaan Banjar adalah kerajaan yang terdapat di Kalimantan Selatan.
Raja-raja Banjarmasin
Raja I adalah Sultan Suriansyah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan Suriansyah
Raja II adalah Sultan Rahmatullah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan
Suriansyah
Raja III adalah Sultan Hidayatullah, dimakamkan di Komplek Makam Sultan
Suriansyah
Raja IV adalah Sultan Mustainbillah, dimakamkan di Martapura
dan lain-lain
Komplek Makam Sultan Suriansyah
Makam Sultan Suriansyah.
Komplek Makam Sultan Suriansyah adalah sebuah kompleks pemakaman yang terletak
di Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin.
Sultan Suriansyah
Sultan Suriansyah merupakan raja Kerajaan Banjar pertama yang memeluk agama
Islam. Sewaktu kecil namanya adalah Raden Samudera, setelah diangkat menjadi
raja namanya menjadi Pangeran Samudera dan setelah memeluk Islam namanya
menjadi Sultan Suriansyah. Gelar lainnya adalah Panembahan atau Susuhunan Batu
Habang.
Sejarah pemugaran Komplek Makam Sultan Suriansyah
Studi kelayakan dalam rangka pemugaran dilakukan oleh sebuah tim yang dipimpin
Drs. Machi Suhadi dengan biaya dari Proyek Pemugaran dan Pemeliharaan
Peninggalan Sejarah dan Purbakala Kalimantan Selatan 1982/1983.
Kegiatan Pemugaran
Pemugaran situs dimulai tahun 1984/1985. Sasaran pokonya ialah memugar
makam-makam kuno dan pentrasiran pondasi batu bata,
Pemugaran makam kuno terurai atas kegiatan: memperkuat pagar bagian bawah
dengan slof beton, membersihkan dan membetulkan letak nisan makam, memperkuat
dan merapikan letak marmer makam, memperbaiki ukira-ukiran yang rusak dan
mengembalikan cat makam seperti warna semula. Kegiatan pentrasiran menampakan
adanya dua kelompok susunan batu bata/tanggul dengan warna yang berbeda.
Kelompok tanggul dengan batu bata merah merupakan pengaman bagi kestabilan
makam Sultan Suriansyah dan Ratu, makam Khatib Dayan, makam Patih Masih, makam
Patih Kuin, Makam hulubaklang raja dan lain-lain. Kelompok tanggul ini terdapat
pada bagian barat dengan ukuran 17 x 17 meter.
Kelompok tanggul dengan batu bata putih merupakan pengaman bagi kestabilan
makam Sultan Rahmatullah dan Makam Sultan Hidayatullah. Kelompok tanggul ini
terdapat di bagian timur dengan ukuran 17 x 17 meter. Pada bagian timur sisi
selatan ditemukan susunan tanggul batu bata putih yang diberi hiasan/ukiran.
Pemugaran situs tahun 1985/1986 diarahkan pada kegiatan penyusunan kembali batu
bata tanggul dan membangun cungkup yang baru menggantikan cungkup lama yang
didirikan pada tahun 1985.
Tokoh-tokoh yang dimakamkan
Sultan Suriansyah
Sultan Suriansyah berasal dari keturunan raja-raja Kerajaan Negara Daha. Beliau
merupakan Raja Banjar pertama yang memeluk Islam, dan sejak beliaulah agama
Islam berkembang resmi dan pesat di Kalimantan Selatan. Untuk pelaksanaan dan
penyiaran agama Islam beliau membangun sebuah masjid yang dikenal sebagai
Masjid Sultan Suriansyah yang merupakan masjid tertua di Kalimantan
SelatanJudul pranala. Menurut sarjana Belanda J.C. Noorlander bahwa berdasarkan
nisan makam, maka umur kuburan dapat dihitung sejak lebih kurang tahun 1550,
berarti Sultan Suriansyah meninggal pada tahun 1550, sehingga itu dianggap
sebagai masa akhir pemerintahannya. Ia bergelar Susuhunan Batu Habang. Menurut
M. Idwar Saleh bahwa masa pemerintahan Sultan Suriansyah berlangsung sekitar
tahun 1526-1550. Sehubungan dengan hal ini juga dapat menetapkan bahwa hari
jadi kota Banjarmasin jatuh pada tanggal 24 September 1526.
Ratu Intan Sari
Ratu Intan Sari atau Puteri Galuh adalah ibu kandung Sultan Suriansyah. Ketika
itu Raden Samudera baru berumur 7 tahun dengan tiada diketahui ayahnya Raden
Manteri Jaya menghilang, maka tinggallah Raden Samudera bersama ibunya. Pada
masa itu Maharaja Sukarama, raja Negara Daha berwasiat agar Raden Samudera
sebagai penggantinya ketika ia mangkat. Tatkala itu pula Raden Samudera menjadi
terancam keselamatannya, berhubung kedua pamannya tidak mau menerima wasiat,
yaitu Pangeran Mangkubumi dan Pangeran Tumenggung, karena kedua orang ini
sebenarnya kemenakan Sukarama. Ratu Intan Sari khawatir, lalu Raden Samudera
dilarikan ke Banjar Masih dan akhirnya dipelihara oleh Patih Masih dan Patih
Kuin. Setelah sekitar 14 tahun kemudian mereka mengangkatnya menjadi raja
(berdirinya kerajaan Banjar Masih/Banjarmasin). Ratu Intan Sari meninggal pada
awal abad ke-16.
Sultan Rahmatullah
Sultan Rahmatullah putera Sultan Suriansyah, beliau raja Banjar ke-2 yang bergelar
Susuhunan Batu Putih. Masa pemerintahannya tahun 1550-1570.
Makam Sultan Rahmatullah.Sultan Hidayatullah
Sultan Hidayatullah, raja Banjar ke-3, cucu Sultan Suriansyah. Beliau bergelar
Susuhunan Batu Irang. Masa pemerintahannya tahun 1570-1595. Ia senang
memperdalam syiar agama Islam. Pembangunan masjid dan langgar (surau) telah
banyak didirikan dan berkembang pesat hingga ke pelosok perkampungan.
Khatib Dayan
Pada tahun 1521 datanglah seorang tokoh ulama besar dari Kerajaan Demak bernama
Khatib Dayan ke Banjar Masih untuk mengislamkan Raden Samudera beserta sejumlah
kerabat istana, sesuai dengan janji semasa pertentangan antara Kerajaan Negara
Daha dengan Kerajaan Banjar Masih. Khatib Dayan merupakan keturunan Sunan
Gunung Jati dari Cirebon, Jawa Barat. Beliau menyampaikan syiar-syiar Islam
dengan kitab pegangan Surat Layang Kalimah Sada di dalam bahasa Jawa. Beliau
seorang ulama dan pahlawan yang telah mengembangkan dan menyebarkan agama Islam
di Kerajaan Banjar sampai akhir hayatnya.
Patih Kuin
Patih Kuin adalah adik kandung Patih Masih. Ia memimpin di daerah Kuin. Ketika
itu ia telah menemukan Raden Samudera dan memeliharanya sebagai anak angkat.
Pada masa beliau keadaan negerinya aman dan makmur serta hubungan dengan Jawa
sangat akrab dan baik. Beliau meninggal pada awal abad ke-16.
Patih Masih
Patih Masih adalah seorang pemimpin orang-orang Melayu yang sangat bijaksana,
berani dan sakti. Beliau memimpin di daerah Banjar Masih secara turun temurun.
Beliau keturunan Patih Simbar Laut yang menjabat Sang Panimba Segara, salah
satu anggota Manteri Ampat. Beliau meninggal sekitar awal abad ke-16.
Senopati Antakusuma
Senopati Antakusuma adalah cucu Sultan Suriansyah. Beliau seorang panglima
perang di Kerajaan Banjar dan sangat pemberani yang diberi gelar Hulubalang
Kerajaan. Beliau meninggal pada awal abad ke-16.
Syekh Abdul Malik
Syekh Abdul Malik atau Haji Batu merupakan seorang ulama besar di Kerajaan
Banjar pada masa pemerintahan Sultan Rahmatullah. Beliau meninggal pada tahun
1640.
Haji Sa'anah
Wan Sa'anah berasal dari keturunan Kerajaan Brunei Darussalam. Beliau menikah
dengan Datu Buna cucu Kiai Marta Sura, seorang menteri di Kerajaan Banjar.
Semasa hidupnya Wan Sa'anah senang mengaji Al-Qur'an dan mengajarkan tentang
keislaman seperti ilmu tauhid dan sebagainya. Beliau meninggal pada tahun 1825.
Pangeran Ahmad
Pangeran Ahmad merupakan seorang senopati Kerajaan Banjar di masa Sultan
Rahmatullah, yang diberi tugas sebagai punggawa atau pengatur hulubalang jaga.
Beliau sangat disayangi raja dan dipercaya. Beliau meninggal pada tahun 1630.
Pangeran Muhammad
Pangeran Muhammad adlah adik kandung Pangeran Ahmad, juga sebagai senopati
Kearton di masa Sultan Hidayatullah I. Beliau meninggal pada tahun 1645.
Sayyid Ahmad Iderus
Sayyid Ahmad Iderus adalah seorang ulama dari Mekkah yang datang ke Kerajaan
Banjar bersama-sama Haji Batu (Syekh Abdul Malik). Beliau menyampaikan
syiar-syiar agama Islam dan berdakwah di tiap-tiap masjid dan langgar (surau).
Beliau meninggal pada tahun 1681.
Gusti Muhammad Arsyad
Gusti Muhammad Arsyad putera dari Pangeran Muhammad Said. Ia meneruskan
perjuangan kakeknya Pangeran Pangeran Antasari melawan penjajah Belanda. Beliau
kena tipu Belanda, hingga diasingkan ke Cianjur beserta anak buahnya, setelah meletus
perang dunia, ia dipulangkan ke Banjarmasin. Beliau meninggal pada thaun 1938.
Kiai Datu Bukasim
Kiai Datu Bukasim merupakan seorang menteri di Kerajaan Banjar. Ia keturunan
Kiai Marta Sura, yang menjabat Sang Panimba Segara (salah satu jabatan menteri).
Beliau meninggal pada tahun 1681.
Anak Cina Muslim
Pada permulaan abad ke-18, seorang Cina datang berdagang ke Banjarmasin. Ia
berdiam di Kuin Cerucuk dan masuk Islam sebagai muallaf. Tatkala itu anaknya
bermain-main di tepi sungai, hingga jatuh terbawa arus sampai ke Ujung Panti.
Atas mufakat tetua di daerah Kuin, mayat anak itu dimakamkan di dalam komplek
makam Sultan Suriansyah.
Organisasi suku Banjar
Definisi
Organsisasi suku Banjar merupakan organisasi, badan (pertubuhan), perkumpulan, yayasan,
ikatan keluarga, paguyuban, kerukunan (kerakatan) maupun wadah tempat berhimpun
keturunan suku Banjar dan wadah mengembangkan kebudayaan suku Banjar.
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jakarta
·
Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3),
DKI Jakarta
·
Yayasan Kerakatan Perantau Banjar
(YKPB) Jakarta Raya.
·
Kerukunan Warga Kalimantan Selatan
(KWKS) Jabodetabek.
·
Masjid Sabilal Muhtadin, Jakarta
Timur
·
(Jl. Pisangan Baru II, Kecamatan
Jatinegara, Kotamadya Jakarta Timur) Merupakan masjid yang dibangun warga asal
Martapura di Jakarta tahun 1980, Imam masjid : K.H. Maulana Kamal Yusuf,
Sekretaris : Gusti Kaspul Usman.
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa
Barat
·
K3
·
Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung
Mangkurat
·
alamat : Bogor Baru Blok A VIII/3-4
RT 007 RW 009 Kelurahan Tegallega, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor 16114,
telpon 0251 328861
·
Persatuan Mahasiswa Kalimantan
Selatan (PMKS) konsulat Bogor dengan alamat Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung
Mangkurat
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa
Tengah
·
Ikatan Keluarga Banjar (IKB),
Semarang, Prov. Jawa Tengah.
·
Ikatan Keluarga Kalimantan (IKK),
Semarang, Prov. Jawa Tengah
·
Yayasan Darussalam, Solo, Jawa
Tengah (wadah organisasi keturunan suku Banjar di Solo, Surakarta)
·
Persatuan Mahasiswa Kalimantan
Selatan (PMKS) Konsulat Semarang
·
Asrama Mahasiswa Kalsel Brigjen H.
Hasan Basry
Organisasi Banjar/Kalimantan di
Yogyakarta
·
Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3)
·
Persatuan Mahasiswa Kalimantan
Selatan (PMKS) Konsulat Yogyakarta
·
Asrama Mahasiswa Kalsel Lambung
Mangkurat
·
Himpunan Mahasiswa Sa-ijaan
Kabupaten Kota Baru (HMSKK) Yogyakarta
Organisasi Banjar/Kalimantan di Jawa
Timur
·
Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3),
Surabaya, Jawa Timur.
Organisasi Banjar/Kalimantan di
Kalimantan Selatan
·
Lembaga Budaya Banjar, Banjarmasin
Organisasi Banjar/Kalimantan di
Kalimantan Timur
·
Kerukunan Bubuhan Banjar (KBB),
Samarinda, Kalimantan Timur
·
Gerakan Pemuda Asli Kalimantan
(GEPAK), Balikpapan
Organisasi Banjar/Kalimantan di
Kalimantan Tengah
·
Nanang Galuh Banjar (Naga Banjar),
Palangkaraya, Kalimantan Tengah
·
Persatuan Keluarga Banjar (Perkaban)
Kapuas, Kalimantan Tengah
Organisasi Banjar/Kalimantan di
Kalimantan Barat
·
Kerukunan Keluarga Banjar (KKB)
Organisasi Banjar/Kalimantan di Riau
·
Kerukunan Keluarga Banjar
(KKB),Indragiri Hilir,Riau
Organisasi Banjar di Malaysia
·
Pertubuhan Banjar Malaysia (PBM)
Suku Banjar di Kalimantan Timur
Suku Banjar (Banjar Samarinda) di Kalimantan Timur sering disebut juga suku
Melayu, merupakan 20 % dari populasi penduduk. Suku Banjar terdapat seluruh
kabupaten dan kota di Kaltim. Beberapa kecamatan yang terdapat banyak suku
Banjarnya misalnya Kecamatan Kenohan dan Jempang di Kutai Kartanegara;
Kecamatan Samarinda Ulu dan Samarinda Ilir di kota Samarinda.
Migrasi suku Banjar (Batang Banyu) ke Kalimantan Timur terjadi tahun 1565 yaitu
orang-orang Amuntai yang dipimpin Aria Manau dari Kerajaan Kuripan (Hindu) yang
merupakan cikal bakal berdirinya Kerajaan Sadurangas ( Pasir Balengkong) di
daerah Pasir, selanjutnya suku Banjar juga tersebar di daerah lainnya di
Kalimantan Timur.
Suku Banjar di Kalimantan Tengah
Suku Banjar di Kalimantan Tengah sering pula disebut Banjar Melayu Pantai atau
Banjar Dayak maksudnya suku Banjar yang terdapat di daerah Dayak Besar yaitu
nama lama Kalimantan Tengah. Suku Banjar merupakan 25 % dari populasi penduduk
dan sebagai suku terbanyak di Kalteng dibanding suku Dayak Ngaju, suku Dayak
Bakumpai, Dayak Sampit dan lain-lain. Sedangkan migrasi suku Banjar (Banjar
Kuala) ke Kalimantan Tengah terutama terjadi pada masa pemerintahan Sultan
Banjar IV yaitu Raja Maruhum atau Sultan Mustainbillah (1650-1672), yang telah
mengijinkan berdirinya Kerajaan Kotawaringin dengan rajanya yang pertama
Pangeran Adipati Antakusuma.
Suku Banjar di Sumatera dan Malaysia
Suku Banjar yang tinggal di Sumatera dan Malaysia merupakan anak, cucu, intah,
piat dari para imigran etnis Banjar yang datang dalam tiga gelombang migrasi
besar. Pertama, pada tahun 1780 terjadi migrasi besar-besaran ke pulau
Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi emigran ketika itu adalah para pendukung
Pangeran Amir yang menderita kekalahan dalam perang saudara antara sesama
bangsawan Kerajaan Banjar, yakni Pangeran Tahmidullah. Mereka harus melarikan
diri dari wilayah Kerajaan Banjar karena sebagai musuh politik mereka sudah
dijatuhi hukuman mati. Kedua, pada tahun 1862 terjadi lagi migrasi
besar-besaran ke pulau Sumatera. Etnis Banjar yang menjadi imigrannya kali
adalah para pendukung Pangeran Antasari dalam kemelut Perang Banjar. Mereka
harus melarikan diri dari pusat pemerintahan Kerajaan Banjar di kota Martapura
karena posisi mereka terdesak sedemikian rupa. Pasukan Residen Belanda yang
menjadi musuh mereka dalam Perang Banjar yang sudah menguasai kota-kota besar
di wilayah Kerajaan Banjar. Ketiga, pada tahun 1905 etnis Banjar kembali
melakukan migrasi besar-besaran ke pulau Sumatera. Kali ini mereka terpaksa
melakukannya karena Sultan Muhammad Seman yang menjadi Raja di Kerajaan Banjar
ketika itu mati syahid di tangan Belanda.
*Sumber: http://banjarcyber.tripod.com/artike1.html